Selasa, 03 Juni 2014

arti sebuah jarak

Arti Sebuah Jarak

Inginku membingkai rindu
Dari sayup dua bola mata indahmu
Agar aku selalu bisa menatapmu
Seiring waktu yang berlalu
Menemani malam ku

Dan ketika memandang lelapmu
Selagi aku meringkuk di tapal waktu
Bertautkan jemari
Lalu temukan mimpi
Hingga cinta tanpa usai pada tepi

Dan disana kelak
Kita terlelap pada satu dekapan
Saat malam begitu sunyi
Ketika rindu kian mengigil
Kita pun larut dalam candu rindu

Dan pada lelapmu aku menyelinap
Mengusik hangat rona hatimu
Yang karena jauhnya jarak
Telah menjelma bulir-bulir embun pada pagi ini.

nafas pemberontakan

Nafas Pemberontakan,Jiwa keabadian

Telah tertumpah darah penuh sayatan luka sejarah
Merenggut nafas yang tak berdosa
Menghardik langkah yang berani menentang
Kisruh sudah hikayat bangsa ini
Pada siapa kami mengadu?
Akankah pada senja yang bergelinangan airmata kemaren sore,kami menuangkan derita kami?
Ataukah masih ada rinai hujan yang teduh yang akan membasuh wajah kami.

Mimpi kami telah lenyap oleh takdir yang kian kelam
Menyisakan satu pertanyaan?
Siapa yang harus bertanggung jawab?
Melihat ketidakadilan memihak kami,jiwa yang diburu oleh kematian yang abadi.
Menyaksikan anak negeri tak berdosa jadi lumbung pemanfaatan yang legal.
Akankah semua hanya menjadi angan tanpa realita?
Ku saksikan ibu pertiwiku menangis tersedu,tersedak oleh maha masalah di negeri ini.
Mentaripun tak kuasa menghentikan tangisan Ibu Pertiwi.
Hanya saja,ku harap masih ada yang cinta negeri ini,tanpa embel-embel ini itu.
Berharap masih ada yang berani menantang keburukan yang merajalela di hadapanku.

Damn I Love Indonesia.
Walau banyak lika-liku yang menerjangnya.
Indonesia akan tetap bermuara di hati kami.
Mimpi kamipun akan tetap sama,menanti fatamorgana semu itu menghilang dari peraduan nya,pun esok mentari akan mengikis kelamnya luka.
Karena sejatinya,Indonesia tetaplah indonesia,negeri yang akan mengakarkan mimpi kami di pelupuk senja yang telah menghilang.

kidung kematian

Kidung Kematian

Malam berganti rupa nestapa,menghardik langkah dalam kesendirian
Rembulan di ujung cakrawalapun mengibarkan sayap-sayap kerinduan nya..
Rindu-rindu yang mencintai sosok kematian yang begitu misterius,abadi dalam perupa jiwa yang mampu menyembuhkan luka-luka lama.

Kematian mulai tercium dari langkah yang mulai rapuh dalam jejak purnama,sirna oleh pelukan malaikat maut.
Samar-samarpun kematian memeluk ku dengan belati yang terselip di balik anggun nya sayap-sayapnya.
Menembus sukmaku,akupun menyaksikan jiwaku dipenuhi dengan pelukan malaikat yang tersenyum ramah menyambutku.

Kematian,sejatinya dekat sekali dalam kehidupan
Kematian bukanlah mimpi buruk tapi asa untuk menemukan dunia yang baru,di bawah hegemoni jiwa yang terkungkung nafsu duniawi.
Kematianpun seakan menemani langkahku dalam derap derai tawa yang menggurita,mengingatkan hamba kehidupan tak abadi,selalu ada cahaya keabadian dalam sebuah Cinta-Nya.

Kematianlah jalan terbaik bagi hamba-Nya yang ingin kebebasan duniawi.mengikis tembok kehidupan yang begitu kejam dalam setiap jejak langkah yang membiru di kalbu
Merindukan kematian dalam arti pelukan cahaya yang menerpa batin,,menasbihkan kuasanya pada takdir yang begitu lembut di telinga,syahdu nan menggelegar di hati terdalam

Duhai Kematian dekaplah jiwaku dalam penantian masa menggerus fatomorganas semu kehidupan,hingga percikan bunga-bunga keabadian menyirami jasadku yang mati
Hingga hamba menyadari jiwaku berkelana dalam penghambaan nya mencari kesejatian sejati,dalam rupa rupa rindu yang dibelai oleh kasih-Nya.

puisi nasi goreng

Puisi Nasi Goreng.

Wajan berbunyi berdentang mengalunkan iramanya sendiri.
Tangan menari di antara sela-sela wajan dan kompor.
Memetik keharuman jiwa melalui nada-nada yang berima si penggoreng nasi.

Ah,mungkin kau memandang remeh nasi goreng!
Nasi goreng yang tersaji di hadapan para pembeli adalah hasil olahan jiwa berpendarkan asa.
Mengapa?
Karena tiap butir-butir nasi yang beterbangan ke udara,selalu terselip inspirasi di dalamnya.
Selalu terselip hakekat kekata jiwa yang sesungguhnya.
Memaknai hari penuh mimpi dalam kecupan senja pada malam.

Karena ku memaknai harapan dan cita dalam rangkaian nasi yang beterbangan,mengguratkan asa dalam takdir yang membelai lembut.
Karena ku merapalkan cintaku dalam sanubari yang terbangun dari masanya,mengikrarkan satu kata,bahwa nasi goreng selalu tercipta dengan seni dan cita rasa yang menggugah hati.
Persis sama dengan puisiku yang seringkali terlahir ketika sedang goreng nasi.
Hakekatnya pun sama,menggaraskan langkah langkah dalam semburat asa yang terbujur kaku.

buka dulu topengmu

Buka dulu Topengmu!

Buka dulu topengmu
Agar kami tak salah memilih
Wajah yang berpura-pura
Wajah yang penuh muslihat licik
Wajah yang mengabadikan kelamnya masa.

Keluarlah sejenak
Tengoklah orang-orang yang merintih dalam rentang waktu yang mengakar.
Dalam memoar silam masa lalu
Mungkin kau sama seperti mereka.
Atau memang kau berbeda
Berbeda dalam artian"Sesungguhnya"

Cukup jangan kau goreskan lagi
Sembilu meradang jiwa
Kini mimpi telah tercerai berai
Anganpun berpendar
Citapun telah melayang.

Hei,kau yang duduk di DPR
(Dewan Pemantik amarah Rakyat)
Buka dulu topengmu
Agar mimpi kami hari ini tetap indah.
Agar hati kami tak kembali meradang kebencian.
Agar kami rakyat yang kau abaikan,ataupun akan kau perjuangkan
Tak menohokmu dalam dosa semalam.

Jika tidak,kau selayaknya debu di tengah gurun pasir,
kehadiranmu nyata namun tiada berfaedah.
mencecar nafsu duniawi ke seantero negeri
Menciptakan angkara murka
merapal janji palsu semata.

semesta rindu

Semesta Rindu dan apa yang telah di genggamnya.

Menelaah Rindu,tiada kata mampu menyibaknya,pun tiada seorangpun memahaminya dengan begitu sempurna.
Menafsirkan nya hanya membuat segelintir orang kehilangan maknanya,namun memaknani nya dalam setiap jengkal kisahmu,disanalah rindu mu kian mencengkeram sanubarimu,melukis semburat wajah di tepian kenangan cinta.

Biarkanlah rindu itu menari dengan indahnya di jalan yang telah dipilihnya,jangan pernah kau mengusiknya sekalipun ia enggan beralih dari wajah-wajah yang dikaguminya itu.

Rindu bukanlah ilmu logaritma ataupun aljabar yang ruwet dengan sistematikanya
Tapi Rindu Ya Rindu itu sendiri.

Apakah hujan yang membawah Rindu ke bumi ini atau
Rindu yang menitipkan segala kenangan dalam kecupan hujan pada sang bumi.

*ahh Rindu engkau kian menjebakku dalam fatamorgana masa lalu,rekam jejak mimpi dalam kekalutan jiwa semalam*

Senin, 19 Mei 2014

derai airmata diatas bahagia

Derai airmata di atas bahagia.

Derai haru membahana sepanjang jalan
Pada titian musim yang bersemi
Telah terpaut mimpiku diatas cakrawala yang membentang luas
Agar siapapun yang melihat ku menaruh hati pada Roma,jiwa yang sesungguhnya.

Roma telah kembali menunjukkan wujudnya
Menggaraskan jiwa-jiwa yang menggamit lehernya.
Roma merindu jiwa yang benar-benar merindu.
Pun kini Roma,telah kembali ke peraduan nya.
Menapaki jejak yang akan di kenang Romanista.
Juga dunia.

Tiada mampu aku berkata tentang Roma,secuil dahaga akan gelar,mendayu mesra penuh kenikmatan,menjaga asa untuk tetap jadi yang terbaik.
Mimpi kita sama,telah meranum dalam kisah yang ditertawakan angin semalam.
Mimpi-mimpi yang kini mulai menukik tajam ke palung jiwaku,menasbihkan Roma sebagai jiwa penuh kerinduan,menggetarkan asa pada waktu yang akan berbinar indah.

*Puisi Untuk Ulang Tahun Nya Roma Club Indonesia Makassar Hari ini*18 mei 2014